Viral keracunan makanan di SD Negeri 1 Kibang, Warga Desak Hentikan MBG
TULANG BAWANG LAMPUNG (HARIAN SUARA INTELEKTUAL)Dugaan keracunan massal yang menimpa siswa-siswi SD Negeri 1 Kibang usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendadak viral di media sosial dan memicu kepanikan warga, Selasa (24/02/2026).
Insiden ini bukan hanya berdampak pada anak-anak, tetapi juga sejumlah orang tua yang turut mengonsumsi telur asin yang dibagikan dalam program tersebut.
Peristiwa itu membuat geger masyarakat setempat setelah banyak siswa mengalami gejala mual, muntah, dan sakit perut tak lama setelah menyantap menu MBG.
Dugaan sementara mengarah pada telur asin yang didistribusikan sebagai bagian dari menu makan bergizi.
Gejala Serentak, Kepanikan MeluasSejumlah siswa dilaporkan muntah di lingkungan sekolah, sementara lainnya mengalami lemas dan harus dipulangkan lebih awal.
Kepanikan semakin meluas ketika orang tua yang turut mencicipi makanan yang dibawa pulang anak mereka juga mengalami gejala serupa.
Yudi (30), warga Gunung Sakti sekaligus orang tua siswa, mengaku mengalami kondisi serius setelah mengonsumsi telur asin tersebut.
“Nyawa saya hampir melayang. Perut terasa seperti ditusuk, dada sesak, lalu saya muntah darah,” ujarnya dengan nada kesal.
Ia menambahkan bahwa kondisinya justru memburuk meski telah berobat.
“Saya sudah minta obat terbaik ke dokter, tapi malah makin muntah dan keluar lendir bercampur darah. Saya yang dewasa saja seperti ini, apalagi anak-anak yang tidak mengerti apa-apa,” ungkapnya.
Insiden ini memicu kekhawatiran publik terhadap standar keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah kini justru dipertanyakan setelah muncul dugaan risiko keracunan.
Sejumlah warga mendesak pemerintah daerah dan pihak penyelenggara untuk segera melakukan investigasi menyeluruh, termasuk:
• Pemeriksaan kualitas bahan makanan
• Standar pengolahan dan distribusi
• Pengawasan higienitas penyedia katering
Para pengamat kesehatan masyarakat menilai bahwa program gizi skala massal harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kesalahan kecil dalam rantai distribusi makanan dapat berdampak luas, terutama bagi anak-anak yang memiliki sistem imun lebih rentan.
Mereka menekankan bahwa evaluasi bukan untuk menghentikan program, melainkan memastikan pelaksanaannya aman, akuntabel, dan berbasis standar kesehatan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun penyelenggara MBG terkait penyebab pasti dugaan keracunan.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar kejadian serupa tidak terulang.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa program sosial, sebaik apa pun tujuannya, tetap harus dijalankan dengan standar keselamatan tertinggi.
Kepercayaan publik dibangun bukan hanya dari niat baik, tetapi dari jaminan perlindungan nyata bagi masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi masa depan. (Red)

Tidak ada komentar