Header Ads

ads header

Breaking News

Refleksi Kritis Milad HMI ke-79



Tasik Malaya (Harian Suara Intelektual)
Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus menghadirkan kembali tema yang terdengar sakral: “Ibadah Intelektual”.

 Di atas kertas, tema ini adalah oase di tengah gersangnya pemikiran mahasiswa hari ini. Namun, jika kita berani membedah lapisan terdalamnya, tema ini sebenarnya adalah sebuah "alarm" sekaligus sindiran halus bagi internal organisasi. Di usia yang hampir delapan dekade, HMI tampak sedang terjebak dalam paradoks; secara kuantitas ia terus membengkak, namun secara kualitas intelektual, organisasi ini sedang mengalami "anemia gagasan".

Kritik pertama tertuju pada fenomena ritualitas tanpa spiritualitas nalar. Jika ibadah adalah bentuk pengabdian, maka intelektualisme di HMI hari ini seringkali berhenti pada aspek formalitas belaka. Kita rajin menyelenggarakan LK-I hingga LK-III, namun outputnya seringkali terjebak pada "hafalan" doktrin dan adu mekanik persidangan yang cenderung feodal. Ibadah intelektual seharusnya melahirkan problem solver, namun yang terjadi justru produksi massal "politisi muda" yang lebih fasih melobi kursi daripada membedah teori sosial-ekonomi yang relevan dengan zaman.

Lebih jauh lagi, HMI saat ini seolah sedang membangun menara gading intelektual yang terasing dari realitas. Kader-kader kita terlalu asyik dengan perdebatan filosofis di sekretariat yang mengepul asap rokok, sementara realitas masyarakat di luar sana sedang dihantam disrupsi AI, krisis iklim, hingga ketimpangan ekonomi digital. Tema "Ibadah Intelektual" akan menjadi lelucon jika kader HMI tidak mampu menjadi rujukan solusi atas isu-isu tersebut. Apakah nalar kritis kita masih tajam terhadap kebijakan publik, atau sudah tumpul karena terlalu sering beradu kepentingan dalam jejaring kekuasaan?

Hal ini membawa kita pada persoalan independensi yang tergadai. Ibadah intelektual menuntut kejujuran berpikir tanpa intervensi. Sayangnya, independensi etis dan organisatoris seringkali kalah oleh "independensi pragmatis". Jika intelektualitas HMI hanya digunakan untuk menjustifikasi kepentingan elit politik atau jembatan menuju karier kekuasaan pasca-berorganisasi, maka itu bukan lagi ibadah, melainkan sebuah bentuk pelacuran intelektual.

HMI juga terlalu sibuk memoles spion sejarah, terjebak dalam romantisme masa lalu. Narasi tentang "HMI anak kandung umat dan bangsa" sering dijadikan perisai untuk menutupi kemalasan berpikir hari ini. Ibadah intelektual seharusnya berorientasi ke masa depan. Jika kader hari ini hanya mampu mengutip Nurcholish Madjid tanpa mampu memproduksi antitesis atau gagasan baru yang relevan dengan tantangan kedaulatan digital, maka HMI sebenarnya sedang berjalan mundur menuju museum sejarah.

Kesenjangan ini semakin nyata dengan munculnya elitisme organisasi. Kita sangat fasih bicara tentang keadilan sosial di forum-forum mewah, namun gagap saat harus mendampingi buruh yang ter-PHK atau petani yang tanahnya tergusur. Ibadah intelektual yang hanya berhenti di lisan tanpa ada manifestasi aksi adalah kesalehan intelektual yang palsu. HMI harus berani turun dari kenyamanan birokrasi organisasi dan kembali ke khittah perjuangan rakyat yang nyata.

Sebagai penutup, Milad ke-79 ini harus menjadi momentum tobat intelektual. Berhentilah memuja kejayaan masa lalu jika kita tak mampu menawarkan solusi bagi masa depan. Ibadah intelektual sejati bukanlah slogan yang dipampang di baliho-baliho ucapan selamat, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa HMI sedang tidak baik-baik saja. HMI harus mengembalikan nalar sebagai instrumen pembebasan, bukan sebagai alat tawar jabatan. Tanpa keberanian untuk mengkritik diri sendiri, "Ibadah Intelektual" hanya akan berakhir menjadi komoditas retoris yang layu sebelum berkembang(Deden/red)

Tidak ada komentar