Header Ads

ads header

Breaking News

Rekam Jejak Carek Unila: Memotret Ketulusan Seorang Pejuang Kemanusiaan



Bandar Lampung (harian Suara Intelektua
l)Deretan buku medis tersusun rapi di sudut ruangan, jauh dari kesan kaku sebuah ruangan seorang guru besar. Di sanalah Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes., Sp.KKLP. menyambut saya dengan senyum ramah. Sore itu, Jumat (06/11), ruang kerjanya di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila) menjadi saksi awal perbincangan hangat yang menguak sisi lain seorang pejuang kemanusiaan.

Pria yang kini menjadi salah satu kandidat kuat nahkoda baru Unila itu duduk santai, mengenakan kemeja rapi dengan gestur yang begitu bersahaja. Ketika saya membuka percakapan ihwal masa-masa kelam pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, sorot matanya menerawang jauh. Kenangan tentang badai yang menguji nyawa itu seolah berkelebat kembali di kepalanya.

"Waktu itu, kita tidak punya pilihan selain maju," kenang Prof. Asep membuka cerita, suaranya tenang namun menyiratkan ketegasan seorang komandan di medan perang.

Sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila saat itu, pundaknya memikul beban ganda yang teramat berat. Di satu sisi, ia harus menjaga roda birokrasi kampus tetap berputar. Di sisi lain, panggilan jiwa seorang dokter dan Ketua IDI Wilayah Lampung mendorongnya terjun langsung ke jantung badai.

"Sebagai dokter, sumpah jabatan kami jelas, keselamatan manusia di atas segalanya. Tapi sebagai pimpinan di kampus, saya juga bertanggung jawab atas ketenangan sivitas akademika. Rasanya seperti berjalan di atas seutas tali di tengah badai," ujarnya sambil tersenyum tipis, mengenang hari-hari penuh ketidakpastian ketika masker dan alat pelindung diri menjadi pakaian sehari-hari.

Ia berkisah bagaimana dirinya tidak memilih bersembunyi di balik zona nyaman ruang ber-AC. Prof. Asep justru memilih berdiri di garis depan. Di bawah komandonya, IDI Wilayah Lampung menjelma menjadi garda terdepan Tim Mitigasi Pusat. Suaranya sedikit meninggi penuh semangat ketika menceritakan bagaimana ia menggerakkan para dokter, relawan, hingga mahasiswa kedokteran untuk bahu-membahu menyusuri sudut-sudut daerah. Memastikan vaksin sampai ke lengan masyarakat.

Namun, di balik kerja keras itu, ada sisi humanis yang paling menyentuh dari sosok seorang Prof. Asep Sukohar. Ia sadar betul bahwa perang melawan virus tak bisa dimenangkan sendirian. Dengan gaya bertutur yang rendah hati, ia memuji kolaborasi lintas sektor yang terjalin saat itu.

"Mana bisa kita bekerja sendiri? Waktu itu, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, Pemprov, Pemkot/Pemkab bahkan teman-teman BIN, semuanya melebur jadi satu. Kami punya satu tujuan, yaitu menyelamatkan warga Lampung," tuturnya penuh kehangatan.

Sinergi luar biasa itu bukan tanpa hasil. Ingatannya melayang pada momen-momen ketika kerja keras tersebut diapresiasi. Ia mengenang Sabtu sore di akhir Maret 2022, saat Ketua Umum DPP Partai Nasdem, Surya Paloh, menyematkan langsung penghargaan sebagai Pejuang Penanganan COVID-19 di Hotel Novotel Bandar Lampung. Beberapa bulan kemudian, tepatnya Juli 2022, apresiasi serupa datang dari Kapolda Lampung, Irjen Pol. Hendro Sugianto, di lapangan terbuka Mapolda.

Bagi sebagian orang, deretan penghargaan bergengsi itu mungkin akan dipajang megah sebagai lambang kejayaan pribadi. Namun, di hadapan saya sore itu, Prof. Asep justru merendah.

"Penghargaan itu adalah kristalisasi keringat para perawat yang kelelahan di bilik vaksin. Kristalisasi air mata kelegaan pasien yang sembuh. Kristalisasi pengorbanan dan kerja sama ribuan tangan yang tak lelah berjuang. Penghargaan itu bukan milik saya pribadi. Saya hanya kebagian tugas menerimanya saja," ucapnya tersenyum santai.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Bandar Lampung, menyisakan pendar jingga yang menembus kaca jendela ruang kerjanya. Dari perbincangan sore itu, satu hal menjadi sangat terang. Rekam jejak kemanusiaan Prof. Asep Sukohar bukan sekadar deretan catatan prestasi di atas kertas atau plakat piagam di dinding.

Ia adalah potret seorang pemimpin yang teruji oleh krisis, ditempa oleh kepedulian, dan dibentuk oleh ketulusan. Di tengah dinamika pemilihan rektor Unila saat ini, kisah sang dokter pejuang dari Fakultas Kedokteran ini membuktikan satu hal mutlak. Yakni kepemimpinan sejati tidak lahir dari ambisi kekuasaan. Melainkan dari seberapa besar seseorang rela mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan sesama. (Budi Santoso)Red

Tidak ada komentar