KAPOLSEK DENTETELADAS IKUT ANGKAT BATU DAN PASIR, BENER‑BENER BERBAUR DENGAN RAKYAT
Tulang bawang Lampung (Harian Suara Intelektual)Suasana di Jalan Hasan Bulan, Desa Pasiranjaya, Kecamatan Denteteladas, hari itu benar‑benar istimewa dan tak akan mudah dilupakan warga. Bukan cuma karena jalan yang rusak, berlubang dan becek akhirnya diperbaiki bersama‑sama, tapi ada satu pemandangan yang bikin semua orang terharu dan kagum: Kapolsek Denteteladas sendiri, IPDA Nurkholik S.H., tidak cuma memimpin atau berdiri mengawasi – ia turun tangan langsung, mengangkat karung pasir, memindahkan batu besar, menggali dan meratakan tanah, sama persis seperti warga biasa.
“Ini baru kali ini seumur hidup kami lihat seorang Kapolsek, apalagi pimpinan tertinggi di sini, mau bener‑bener turun ke lumpur, angkat batu, gendong pasir, berkeringat sekuat tenaga bareng kami. Biasanya kan petugas cuma datang, ngomong, terus pergi. Tapi Pak Nurkholik beda. Dia satu tim, satu beban, satu semangat,” ujar Mas Nur Rahman, warga sekaligus panitia donasi, matanya berbinar bangga.
Kamis, 21 Mei 2026 itu jadi bukti nyata bahwa kehadiran Polri bukan cuma di atas kertas atau pidato, tapi nyata di tengah keringat dan kerja keras. Sejak pagi, begitu sampai lokasi, Kapolsek tidak langsung duduk atau memberi instruksi dari jauh. Ia langsung memegang sekop, mengangkat karung berisi batu dan pasir berat, membantu menimbun lubang dalam, bahkan tidak segan‑segan kotor baju dan sepatu terkena lumpur.
“Kami kaget sekaligus senang. Beliau itu pimpinan, tapi tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun. Kalau ada batu berat yang susah dipindah, beliau segera bantu. Kalau ada tumpukan pasir yang harus dipindah, beliau angkat duluan. Bener‑bener baur, nggak ada jarak sama sekali. Rasanya aman, dekat, dan bangga punya pemimpin seperti ini,” tambah Bapak Ribut, warga lain yang juga ikut bekerja.
Kegiatan yang dipimpin langsung beliau ini melibatkan anggota Polsek, Babinsa Koramil 0426/Tulang Bawang, Kades Noko beserta perangkat desa, serta puluhan warga. Semua bekerja bahu‑membahu, namun perhatian warga selalu tertuju pada sosok Kapolsek yang tetap semangat meski sudah berkeringat deras, baju kotor, tangan lecet, tapi tak mau berhenti duluan.
Ditanya soal itu, IPDA Nurkholik cuma tersenyum lebar. “Saya ini juga bagian dari masyarakat, tugas saya melayani dan ada di saat susah maupun senang. Kalau jalan rusak menyusahkan warga, ya tugas saya bantu perbaiki, nggak peduli itu angkat batu atau gali tanah. Itu bentuk pengabdian yang paling nyata. Kalau saya cuma suruh‑suruh atau berdiri saja, mana bisa dekat sama rakyat?” tegasnya.
Menurut beliau, budaya gotong royong adalah warisan luhur yang harus dijaga, sekaligus wujud nyata dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yaitu mempererat persatuan dan kepedulian sosial. “Kedekatan itu nggak bisa dipaksakan, harus dibangun lewat kerja sama, keringat bersama, dan rasa memiliki yang sama. Saya mau warga tahu, polisi itu saudara, teman, mitra kerja-bukan cuma penegak hukum saja,” tambahnya.
Antusiasme warga luar biasa. Banyak yang bilang, sejak ada pemimpin seperti ini, rasa percaya dan kasih sayang masyarakat ke aparat makin kuat. “Baru kali ini rasanya begitu dekat. Kami lihat sendiri, beliau tidak malu, tidak gengsi, mau bekerja keras sama kami. Ini yang kami harapkan selama ini. Semoga Pak Kapolsek tetap seperti ini, dan semoga pemimpin lain juga mencontoh,” kata Mas Nur Rahman penuh harap.
Selain memperbaiki jalan yang kini lebih aman dan nyaman dilalui, kegiatan ini juga mengumpulkan donasi sukarela sebesar Rp25.100.000 yang akan dipakai untuk penyempurnaan lebih lanjut. Namun yang paling berharga bukan uangnya, melainkan kedekatan hati yang terjalin: bahwa di Denteteladas, jarak antara aparat dan masyarakat sudah hilang, disatukan oleh batu, pasir, lumpur, dan semangat kebersamaan yang sejati.
Penulis zahyak/red.

Tidak ada komentar