Ketika Sungai Perbatasan Meluap: Bandar Lampung Butuh Strategi Besar Pengelolaan Air
Bandar Lampung (Harian Suara Intelektual)Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung selama hampir satu setengah jam pada memicu meluapnya sejumlah sungai di wilayah perbatasan kota. Dampaknya, banjir muncul di beberapa titik dan kembali menegaskan rapuhnya sistem pengendalian air perkotaan saat menghadapi intensitas hujan tinggi. Jumat (6/3/2026)
Pantauan di lapangan menunjukkan sungai-sungai besar di wilayah perbatasan menjadi pemicu utama meluapnya air. Ketika debit meningkat secara cepat, aliran sungai melimpas dan masuk ke jaringan drainase kota melalui gorong-gorong.
Sistem drainase yang tidak mampu menampung lonjakan air itu pun akhirnya meluap, menyebabkan genangan di kawasan permukiman.
Situasi ini menegaskan bahwa persoalan banjir di Bandar Lampung bukan semata persoalan drainase kota, tetapi juga terkait langsung dengan pengelolaan sungai skala wilayah.
Karena itu, penanganan serius dari Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung menjadi sangat penting, terutama dalam pengendalian debit air, normalisasi sungai, serta penguatan sistem pengendalian banjir di kawasan perbatasan.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung bergerak cepat merespons kondisi di lapangan. Tim BPBD langsung turun ke sejumlah titik terdampak untuk melakukan penanganan darurat dan memastikan aliran air kembali lancar.
Salah satu wilayah yang terdampak berada di Kecamatan Kedamaian.
Di kawasan ini, petugas BPBD bersama unsur terkait melakukan pembersihan dan perbaikan sejumlah gorong-gorong yang tersumbat agar aliran air dapat kembali mengalir dengan cepat dan mengurangi genangan di permukiman warga.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa kota yang terus berkembang harus diimbangi dengan tata kelola lingkungan yang lebih disiplin dan terencana.
Intensitas hujan yang semakin ekstrem menuntut kesiapan infrastruktur air yang lebih kuat, koordinasi lintas lembaga yang solid, serta kesadaran masyarakat untuk menjaga saluran air dari sampah dan sedimentasi.
Bandar Lampung tidak sekadar membutuhkan respons cepat saat banjir terjadi. Kota ini memerlukan langkah strategis, terukur, dan berkelanjutan agar setiap hujan deras tidak lagi berubah menjadi ancaman bagi warganya. (Ferry)

Tidak ada komentar