Akibat Keracunan Makanan MBG RSUD Menggala Mendadak Ramai
TULANGBAWANG LAMPUNG (HARIAN SUARA INTELEKTUAL)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi simbol komitmen negara terhadap kesehatan generasi muda justru memicu kegelisahan publik di Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulangbawang.
Hingga pukul 22.34 WIB, laporan warga menyebutkan jumlah korban yang diduga mengalami keracunan terus bertambah, meluas tidak hanya pada siswa, tetapi juga orang tua dan lansia. Laporan terbaru disampaikan warga bernama Yuhari pada Selasa malam (24/02/2026)
yang mengungkap bahwa korban terus berdatangan ke fasilitas kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program MBG.
Dugaan sementara yang beredar di masyarakat mengarah pada telur asin yang didistribusikan oleh SPPG di Kecamatan Menggala.
Konsumsi makanan tersebut diduga memicu gejala mual, muntah, dan pusing pada siswa-siswi SD Negeri 1 Kibang Menggala, yang kemudian diikuti oleh anggota keluarga mereka di rumah.
Peristiwa ini memperlihatkan efek domino yang mengkhawatirkan, makanan yang dimaksudkan untuk meningkatkan gizi justru berpotensi menjadi sumber ancaman kesehatan publik jika pengawasan mutu dan distribusinya lalai.
Pemerintah Kabupaten Tulangbawang merespons cepat dengan menurunkan Sekretaris Daerah Ir. Ferli Yuledi, didampingi Camat Menggala dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), untuk meninjau langsung kondisi korban di
Kehadiran pejabat daerah menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani.
Namun di lapangan, jumlah korban dilaporkan terus meningkat bahkan setelah penanganan medis dilakukan.
Fakta ini menimbulkan pertanyaan serius tentang standar keamanan pangan, sistem distribusi, serta mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan program MBG.
Awalnya kasus hanya menimpa siswa sekolah dasar. Namun seiring waktu, laporan menunjukkan bahwa orang tua dan lansia turut menjadi korban setelah mengonsumsi makanan yang sama di rumah.
Fenomena ini menegaskan bahwa dampak insiden tidak lagi bersifat lokal di lingkungan sekolah, melainkan telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Seorang warga berinisial Y menyampaikan kekecewaan dan kekhawatiran mendalam. Ia berharap kejadian ini menjadi yang terakhir, bahkan mendesak agar program MBG di Tulangbawang dihentikan jika tidak mampu menjamin keselamatan masyarakat.
“Cukup ini yang terakhir. Bila perlu MBG dihapuskan saja. Keselamatan masyarakat lebih penting daripada program yang dijalankan dengan kelalaian oknum tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan krisis kepercayaan yang mulai tumbuh di tengah masyarakat, sebuah sinyal peringatan bagi pemerintah bahwa keberhasilan program sosial tidak hanya diukur dari niat baik, tetapi dari jaminan keamanan dan kualitas pelaksanaannya.
Insiden ini menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Tulangbawang untuk melakukan evaluasi total terhadap rantai pasok, standar keamanan pangan, serta pengawasan pelaksanaan program MBG.
Program yang dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia tidak boleh dijalankan dengan standar yang kompromistis. Keamanan pangan adalah prasyarat mutlak, bukan opsi.
Jika negara hadir untuk menyejahterakan rakyat, maka keselamatan rakyat harus menjadi fondasi utama setiap kebijakan. (Red)

Tidak ada komentar